Nancy, 21 Mei 2012
22:19
2 dari 3 tugas berupa karya tulis akhirnya telah saya kirim ke prof. Sebagai selingan, saya kemudian membuka laman blog yang agak terbengkalai beberapa minggu belakangan ini. Sambil menyantap sebuah pisang dan menyeruput secangkir capuccino hangat, saya mulai menulis cerita ini..
***
Di tengah-tengah kesibukan mempersiapkan ujian akhir semester, thesis dan banyak tugas lainnya, mahasiswa Indonesia di kota Nancy yang hanya tinggal 5 orang saja (termasuk saya, tadinya ada 12 orang) mengikuti salah satu kegiatan budaya yang diadakan oleh pemerintah kota.
Salah seorang kawan diketuk pintu kamarnya oleh staf walikota untuk menyatakan kesediaan mahasiswa Indonesia berpartisipasi dalam acara yang mereka buat. Singkat cerita, dari 9 negara peserta, kami pelajar asal Indonesia kebagian untuk membuat desert –dan pada akhirnya diputuskan bakwan & kelepon sebagai pilihan desert-nya. Untuk urusan membuat adonan bakwan sayur diserahkan pada saya. Seorang kawan lain berujar : ”Rona, kamu bikin adonannya ya, orang Palembang kan jago bikin adonan..”
Tanpa pikir lama saya langsung mengambil tepung, telur, garam, irisan sayur, dan bahan-bahan lainnya sambil tersenyum dan berkata dalam hati ”oh okay..sejak kapan ada stereotip seperti itu yaa..” hahaha.
Ternyata, semua pengeluaran untuk membeli bahan makanan di-rembourse oleh pihak walikota.
*tetiba petir menggelegar di belahan bumi ini dan cukup mengejutkan saya yang sedang mengingat-ingat acara 12 Mei ini*
Kami ber-5 sampai di tempat acara dan berkenalan dengan banyaaaaak orang. Ketika sedang asyik ngobrol, seorang bapak menghampiri kami sambil mengenalkan dirinya sebagai walikota. Dan ia mengaku sudah pernah berkunjung ke Bali dan Jawa (saya nebaknya sih, dia mengunjungi kota favorit saya-Yogyakarta). ”Vous êtes indonésiens? ah… Je pense à vous!” “Orang Indonesia sangat ramah, negara yg dipenuhi dengan berbagai budaya yang unik dan beragam. Saya senang! Saya berharap tahun depan akan ada lagi mahasiswa Indonesia yang ikut acara ini..”
Pak walikota terlihat sangat sumringah dan senang sekali. Memang agak berbeda dengan orang asing lain yang belum pernah berkunjung ke Indonesia, beberapa orang asing yang saya kenal dan pernah menapakkan kakinya ke Indonesia akan merasa sangat antusias dan seperti ada hati yang tertinggal di Indonesia *agak lebay*. But I am saying the truth, I can see it through their eyes. Mata mereka ikut berbicara berbinar-binar saat bercerita tentang keelokan ibu pertiwi. Waktu itu dosen filsafat seni (film) dan estetika saya mengaku pernah mengunjungi Jakarta dan Bali, bahkan ia berkata kalau Indonesia sangat berbeda, ”I left my heart there..” ujarnya saat itu. Dan ya, siapa yang tidak bangga menjadi bagian dari negara Indonesia. Saya dan kawan-kawan di sini pada akhirnya menyadari serta sangat bersyukur dapat kesempatan untuk tinggal di negara orang, karena dengan begitu, kami dapat melihat Indonesia dari sudut lainnya.. hal kecil saja contohnya kami rasakan ada sesuatu yang berbeda ketika mendengar lagu Indonesia Pusaka dan Rayuan Pulau Kelapa yang diputar sembari mempresentasikan Indonesia kepada para peserta di acara tsb. Senang sekali sudah ikut mengenalkan Indonesia di negeri ini, bahkan kawan-kawan yang kuliah di berbagai kota lainnya di Prancis juga berpartisipasi pada kegiatan budaya semacam ini di tempat tinggal mereka.

walikota beserta jajarannya






Cute baby girl, Voilette!

Ninon ![]()


















