Sedikit tentang Feminisme
Konsep Feminisme Marxis/Sosialis pada Perempuan dalam Film “Berbagi Suami”
Latar Belakang
Film yang disebut sebagai media komunikasi mempunyai kemampuan menarik perhatian orang dan mengantar pesan secara unik ( McQuail, 1994:13 yang dikutip dari www.journal.unair.ac.id oleh Satrya Wibawa), sehingga secara tidak langsung film dijadikan alat untuk mendorong gerakan feminisme memberikan citra positif bagi perempuan dan membongkar film sebagai media pembodohan massa, terutama kaum perempuan (Jurnal Perempuan Edisi XIII Maret-April-Mei 2000). Dalam Film Berbagi Suami terdapat berbagai macam konflik yang cukup menarik untuk diangkat, tentu tentang perempuan. Sajian film yang dikemas dengan renyah dan menampilkan berbagai tokoh dari berbagai latar belakang keluarga, diisi dengan permasalahan rumah tangga yang cukup hangat diperbincangkan saat ini, yaitu tentang poligami. Terdapat satu keluarga yang memang cukup ‘terang-terangan’ dimana sang suami memiliki istri tiga sekaligus dan tinggal satu atap dengan keempat istri serta anak-anaknya. Namun sama sekali tidak ada keributan didalam keluarga ini. Selain itu juga ada satu keluarga dimana sang suami tanpa sepengetahuan istrinya selingkuh dan kemudian menikah dengan seorang wanita muda bawahannya sendiri. Kemudian ada satu keluarga dimana sang suami suka sekali memberi kejutan kepada istrinya dengan menikahi beberapa perempuan secara diam-diam, dan istrinya hanya diam saja walaupun ada konflik batin berkecamuk dalam jiwa sang istri.
Penulis mencoba menghubungkan permasalahan yang terjadi dalam film Berbagi Suami –yang terkesan terlalu mengekspoitasi dan memberdayakan perempuan dalam citra yang negatif—dengan persoalan feminisme, khususnya feminisme marxis/sosialis, yang cukup menggambarkan keadaan sosial perempuan di dalam film maupun di kehidupan nyata. Kesadaran perempuan dalam film Berbagi Suami, sebagaimana dipandang dari perspektif feminisme marxis/sosialis yang lebih diarahkan untuk menghilangkan penindasan ekonomi perempuan, ditentukan oleh keadaan sosialnya.
Sinopsis Cerita
Tiga perempuan yang berasal dari tiga kelas sosial, ekonomi dan suku yang berbeda membuka tabir tentang kehidupan poligami mereka. Perempuan-perempuan ini mengalami kondisi yang mirip satu sama lain, tetapi dengan latar belakang pribadi dan karakter yang berbeda. Salma (Jajang C Noer) adalah seorang dokter ahli kandungan. Di tengah kehidupannya yang mapan, ia harus berjuang mempertahankan keutuhan rumah tangganya, walaupun Pak Haji (El Manik), suaminya telah menikahi perempuan yang lebih muda (Nungky Kusumastuti). Nadim (Wingky Wiryawan) anak semata wayang Salma menjadi alasan Salma untuk menjalani kehidupan poligaminya. Walaupun akhirnya Nadim justru tumbuh menjadi anak yang menentang poligami. Siti (Shanty) adalah seorang gadis Jawa, yang bercita-cita untuk memperbaiki kehidupannya di Jakarta. Tinggal di rumah sempit Pak Lik-nya (Lukman Sardi), bersama dua istrinya (Ria Irawan dan Rieke Dyah Pitaloka), membuat Siti terbiasa dengan kehidupan poligami di rumah tangga pamannya ini. Namun Siti tidak pernah menyangka bahwa pamannya menaruh hati terhadap dirinya dan berniat menikahi Siti sebagai istri ketiga. Hubungan Siti dengan kedua istri pamannya justru semakin akrab setelah ia menjadi istri ketiga dan ini membuat situasi rumah tangga mereka unik. Ming (Dominique) seorang perempuan muda keturunan Tionghoa yang terkenal sebagai “kembang” di restoran bebek panggang tempatnya bekerja. Koh Abun (Tio Pakusadewo), koki yang juga pemilik restoran, tak dapat menyembunyikan keinginannya untuk mengawini Ming. Bahkan istrinya yang galak, Cik Linda (Ira Maya Sopha) pun tak mampu manghalanginya. Ming menerima pinangan Koh Abun, yang sebenarnya lebih pantas menjadi bapaknya, karena merasa ‘aman’. Ketika Firman (Reuben Elishama), bekas pacar Ming yang telah menjadi sutradara film menawarkan peran utama di filmnya, Ming mulai membutuhkan kebebasan dan menyadari potensinya. Ruang kehidupan Salma, Siti dan Ming berbeda dan mereka tak saling mengenal satu sama lain. Namun, mereka terkadang bertemu diruang publik Jakarta yang padat, tanpa menyadari bahwa mereka mengalami masalah kehidupan yang hampir sama (http://www.berbagisuami.com).
Feminisme Marxis/Sosialis dalam Film ‘Berbagi Suami’
Film ‘Berbagi Suami’ ini dapat digolongkan ke dalam film feminis karena cerita yang diangkat menekankan pada keadaan perempuan yang menjadi korban atas penindasan yang dilakukan oleh laki-laki. Argumentasi telah banyak dikemukakan oleh berbagai kritikus film feminis, seperti Sharon Smith, yang menawarkan pemikiran bahwa dalam film feminis tokoh perempuan harus diberikan peran yang berbeda daripada stereotipe di dunia nyata. Dalam hal ini, film feminis diharapkan dapat menjadi perangkat untuk melakukan pemikiran serta penilaian ulang atas stereotipe peran tradisional berdasarkan jenis kelamin. Film perempuan adalah film yang menampilkan perempuan di dalam ruang pribadinya sendiri, sebagai istri, ibu, anak perempuan, dan kekasih. Menurut Judith Mayne, perempuan memang dijadikan objek pandangan, tetapi perempuan merupakan penonton juga. Molly Haskell juga menjelaskan bahwa film perempuan yang lebih baik memberikan aspirasi tentang perempuan biasa yang menjadi luar biasa, perempuan yang mulai sebagai korban lingkungan yang diskriminatif tetapi kemudian bangkit, melalui rasa sakit, obsesi atau penyimpangan , untuk menentukan nasibnya sendiri (Kajian Budaya Feminis, Aquarini Priyatna, Jalasutra, hal. 336 dan 337).
Penulis melihat permasalahan perempuan yang ada dalam film ‘Berbagi Suami’ dengan menggunakan konsep feminisme marxis/sosialis yang penulis anggap dapat mewakili keadaan perempuan di dalam film ini maupun keadaan perempuan di kehidupan nyata (Contemporary Feminist Theories oleh Stevi Jackson dan Jackie Jones, Edinburgh University Press hal. 12). Feminisme sendiri pada dasarnya adalah gerakan perjuangan persamaan hak perempuan agar sama (setara) dengan pria. Feminisme dilahirkan beberapa abad lalu di Barat, karena menilai ada ketidakadilan bagi kaum perempuan. Sumber ketidakadilan itu dinilai karena kuatnya dominasi laki-laki (patriarki). Ada beberapa aliran besar feminisme, salah satunya feminisme marxis/sosialis. Feminisme marxis/sosialis adalah feminisme yang melihat bahwa ketertindasan perempuan bukan karena hal-hal individual melainkan produk dari suatu struktrur ekonomi-politik kapitalis. Feminisme ini mendukung ideologi komunisme/sosialisme dalam usahanya menghilangkan dominasi kapitalisme. Cikal bakal kapitalisme adalah adanya struktur patriarkat dalam keluarga yang menempatkan pria sebagai penguasa/kepala keluarga serta adanya konsep kepemilikan pribadi dalam keluarga, termasuk kepemilikan harta dan kepemilikan istri. Di sini dinilai pihak perempuan/istri tertindas karena tidak punya kekuatan ekonomi. Karena itu, agar perempuan jadi mandiri, dia perlu lepas dari keluarga/laki-laki. Pada gilirannya, bila sistem kapitalisme (dan struktur patriarkat) itu hilang, maka akan tercipta masyarakat egaliter/setara antarkelas sosial termasuk kesejajaran posisi perempuan dengan laki-laki di berbagai aspeknya (Kartini, Feminis Liberal? oleh Firya Amalia Andriana, republika.co.id, didownload tanggal 15 November 2007).
Film ‘Berbagi Suami’, yang disutradarai oleh Nia Dinata, telah melemparkan wacana poligami ke tengah masyarakat Indonesia dengan tujuan agar masyarakat dapat mendekonstruksi paradigma yang ada selama ini mengenai posisi perempuan dan poligami, yaitu perempuan yang tertindas. Seperti poligami yang dilakukan oleh suami dari tokoh Salma dalam film ini yang banyak diprotes orang namun tetap saja bebas dilakukan. Tampaknya perempuan tidak lagi memiliki pilihan ketika kenyataan ini terjadi pada dirinya. Pada umumnya perempuan hanya bisa diam dan menerima semuanya dalam tekanan batin. Lalu apakah hal itu pula yang terjadi pada diri Salma sebagai seorang perempuan yang anggun, tegar dan berpendidikan tinggi? Tentu saja Salma merasa kecewa ketika ia mengetahui suaminya telah menikah lagi tanpa izinnya. Tapi cerita tidak hanya berakhir di situ. Dengan modal pendidikan dokternya, Salma mulai menyibukkan diri dengan membangun klinik khusus wanita yang juga diperuntukkan kepada orang yang kurang mampu. Ia pun tetap berusaha tegar dan menjadi ibu yang baik bagi putranya, Nadim (Wingky Wiryawan). Walaupun ada konsekuensi yang tidak mampu ia hindari, yakni putranya tumbuh menjadi anak yang dingin dan sinis serta hubungan ayah-anak yang kurang harmonis. Selain itu, Salma tetap mampu menjadi istri yang mendorong karir suaminya, merawat dengan penuh kasih ketika suaminya sakit, dan menerima dengan lapang dada terhadap kehadiran istri-istri muda suaminya juga anak-anaknya.
Film merupakan salah satu bentuk karya seni yang mampu menarik perhatian banyak orang dan mampu menyampaikan pesan secara unik melalui cerita yang ditampilkan, sehingga secara tidak langsung film dijadikan alat untuk mendorong gerakan feminisme memberikan citra positif bagi perempuan dan membongkar film sebagai media pembodohan massa, terutama kaum perempuan. Terry Eagleton dalam bukunya yang berjudul ‘Marxisme dan Kritik Sastra’ menyebutkan bahwa kritikus demokratik revolusioner Rusia abad ke-19, Belinsky, Chernyshevsky, dan Dobrolyubov melihat sastra sebagai kritik sosial dan analisis, sedangkan seniman sebagai pembawa pencerahan. Sastra hendaknya mengabaikan rumitnya teknik-teknik estetik dan menjadi alat perkembangan sosial. Seni mencerminkan realitas sosial dan haruslah menggambarkan bentuk-bentuk tipikalnya. Ada masa-masa bagi masyarakat dimana kesadaran progresif tentang komitmen politik tidak perlu menjadi kondisi penting untuk menghasilkan seni yang besar (Marxisme dan Kritik Sastra, Terry Eagleton, Sumbu, hal.52). Seni yang besar tentu harus menggambarkan realitas sosial yang ada dan berkembang dalam masyarakat, termasuk film. Tak terkecuali film ‘Berbagi Suami’ yang mengusung konsep feminisme, dalam hal ini penulis memilih feminisme marxis/sosialis sebagai aliran feminis yang paling tepat menggambarkan keadaan perempuan yang tertindas dalam film ini, menampilkan cerita dalam kemasan yang cukup menarik dan berhasil menghadirkan tema cerita yang sedang berkembang dalam masyarakat. Film ‘Berbagi Suami’ sebagai film yang mewakili citra perempuan—walaupun dalam citra negatif—sebenarnya tidak dilabeli feminis. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa film tersebut bukan film feminis. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, apakah film feminis itu? Seperti yang penulis ungkapkan dalam bagian sebelumnya—tentang feminisme—banyak argumen yang dikemukakan oleh berbagai kritikus tentang film perempuan. Sedangkan bagi pihak pembuat film, gagasan feminis tidak selalu berarti tuntutan untuk membuat film yang menampilkan perempuan yang luar biasa mandiri yang tidak memerlukan orang lain, apalagi laki-laki. Dan tidak juga berarti film feminis adalah film tentang perempuan seksual yang sangat bebas dan dapat tidur dengan siapa saja yang diinginkannya (Kajian Budaya Feminis, Jalasutra, Aquarini Priyatna, ‘Identifikasi Female, Feminin, Feminis dalam Film Sense and Sensibility dan Crouching Tiger Hidden Dragon’, hal336).
Pelaku perfilman hendaknya dapat berperan sebagai penggerak untuk melakukan perubahan pola pikir dan perilaku yang mendukung upaya peningkatan kualitas hidup perempuan. Seperti yang diucapkan oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta Swasono—dikutip dari bipnewsroom.info/6November2007,diakses tanggal 14 November 2007—pada pertemuan dengan pelaku pertelevisian, sutradara dan artis film bahwa berbagai permasalahan yang dihadapi perempuan dan anak yang bersumber dari ketidakadilan gender sulit diatasi selama pola pikir yang ada dalam masyarakat masih cenderung melestarikan ketidakadilan gender. Dalam hal ini para pelaku perfilman dan televisi diharapkan dapat ikut berperan di dalam melakukan intervensi perubahan pola pikir untuk mewujudkan kesetaraan dan keadilan gender melalui karya film dan TV. Dunia perfilman dan pertelevisian mempunyai peran yang sangat besar dalam membentuk opini publik, disinilah perubahan pola pikir untuk membangun keluarga dan masyarakat yang berkeadilan dan berkesetaraan gender bisa dititipkan.
Perempuan yang tertindas yang ditampilkan dalam film ini tidak jauh berbeda seperti yang terjadi dalam kehidupan nyata. Dimana isu poligami—yang diangkat dalam film—memang betul-betul terjadi, dan selama ini banyak merugikan pihak perempuan sebagai korban. Walaupun seolah menerima dengan pasrah apa yang dilakukan suaminya, seperti peran Salma dalam film ini, tetap saja ada tekanan batin yang menghampiri. Konsep feminisme marxis/sosialis juga seakan membenarkan keadaan perempuan dalam film ini. Pendekatan feminis marxis menjelaskan bahwa ketimpangan gender terjadi karena kapitalisme. Kapitalisme adalah tatanan sosial dimana para pemilik modal mengungguli kaum buruh dan laki-laki mengungguli perempuan. Pendekatan feminis marxis ini memfokuskan pada hubungan perempuan dengan kapital dan cara-cara berproduksi.
Mengutip tulisan Piki yang berjudul Film ‘Berbagi Suami’: Reverse Psychology dan Pembebasan Perempuan, disebutkan bahwa Aquarini Priyatna Prabasmoro dalam bukunya Kajian Budaya Feminis, mengatakan bahwa hubungan apa pun juga, baik heteroseksual maupun homoseksual selalu melibatkan hasrat untuk menyubjektifikasi dan mengobjektifikasi. Dan memang faktanya, seseorang hanya dapat menjadi subjek ketika menemukan objek. Seseorang hanya dapat menjadi Diri ketika ia direfleksi oleh Liyan, dan dalam hal ini, hubungan Subjek/Diri dengan Objek/Liyan menjadi tidak terhindarkan. Demikian halnya yang dialami oleh Siti dan Dwi, keduanya meskipun terlihat hidup rukun dan damai dalam nuansa poligami. Namun dapat dipastikan bahwa keduanya hanya merasa menjadi objek ketika berhadapan dengan sang suami, penekanannya disini adalah sebagai objek seksual. Maka ketika Siti dan Dwi masing-masing menemukan Diri/Liyan-nya ketika berhubungan satu sama lain, disitulah letak kenikmatan dan kebahagiaannya. Dengan demikian, kedua perempuan itu melakukan pembebasannya sendiri demi subjektivitasnya dan kebahagiaannya melalui percintaan yang diperjuangakan dengan melarikan diri dari rumah yang mempertemukan mereka.
Film ‘Berbagi Suami’ dibuat berdasarkan keadaan sosial yang tengah berkembang dalam kehidupan masyarakat. Pada zaman modern seperti sekarang, sudah bukan saatnya lagi perempuan terbawa oleh arus tindak-tanduk lelaki yang seringkali mengintimidasi dan merugikan perempuan. Perempuan kini lebih memiliki banyak pilihan, mau dipoligami atau tidak bukan lagi perkara nasib, melainkan sebuah pilihan hidup. Dan ini semua bukan pula perkara baik atau buruk dan benar atau salah, tapi lebih merupakan pertanggungjawaban seorang manusia dewasa. Poligami dalam taraf dan kondisi tertentu memang baik, tetapi kita sebagai manusia seharusnya sadar diri akan kemampuan kita yang maha terbatas ini.
Mengusung keadaan sosial di kehidupan nyata membuat film ini dinilai cerdas dan menarik dalam penyampaian pesan moralnya kepada penonton, sekaligus juga menghibur. Terlihat kepekaan Nia Dinata, sebagai sutradara dan penulis skenario, akan keadaan sosial yang tengah berkembang dalam kehidupan. Kemudian ia mencoba mengemas film ini agar lebih dekat dengan realitas yang ada dan tengah berkembang dalam kehidupan. Masyarakat—khususnya perempuan—tengah dihinggapi rasa takut yang luar biasa ketika isu-isu poligami mulai merebak. Keadaan ini kemudian disadari oleh Nia Dinata yang cukup peka melihat peluang untuk membuat film dengan ide cerita yang seolah mewakili perasaan yang tengah berkecamuk dalam diri perempuan. Nia menghadirkan tiga kisah yang dijalin amat rapi dalam bingkai filmnya. Di film ini tampak jelas terlihat bahwa sang sutradara ingin agar penonton dapat menentukan sikap tersendiri terhadap poligami, dengan suguhan realitas yang terjadi jika seorang suami memiliki istri lebih dari satu. Namun di sisi lain, sama sekali tidak ada pemaksaan bagi penonton untuk membenci atau menjauhi poligami. Konsep feminisme marxis/sosialis dalam film ‘Berbagi Suami’ mengantarkan kita untuk menyikapi wacana poligami dan ketertindasan perempuan yang dilakukan oleh laki-laki seperti yang terjadi di kehidupan nyata.
Kesimpulan
Konsep feminisme marxis/sosialis pada perempuan dalam film ‘Berbagi Suami’, apabila dilihat dari perspektif objektivisme Marx, tampak terlihat bahwa kesadaran dalam pembuatan film ini ditentukan oleh realitas seperti yang ada di dalam kehidupan masyarakat. Sutradara dan penulis skenario, Nia Dinata, memiliki kepekaan dalam melihat fenomena yang sedang berkembang, kemudian ia merealisasikan idenya ke dalam cerita berbentuk film. Film memiliki fungsi sebagai media komunikasi yang unik dalam penyampaian pesan moral. Pada film ‘Berbagi Suami’, Nia Dinata memberikan kebebasan bagi penontonnya untuk menentukan sikap terhadap poligami. Namun, tidak ada unsur pemaksaan bagi penontonnya untuk menjauhi dan membenci poligami.
Feminisme marxis/sosialis melihat bahwa ketertindasan perempuan merupakan produk dari suatu struktrur ekonomi-politik kapitalis. Feminisme ini mendukung komunisme/sosialisme dalam usahanya menghilangkan dominasi kapitalisme. Cikal bakal kapitalisme adalah adanya struktur patriarkat dalam keluarga yang menempatkan pria sebagai penguasa/kepala keluarga serta adanya konsep kepemilikan pribadi dalam keluarga, termasuk kepemilikan harta dan kepemilikan istri. Hal yang sama terjadi pada film ‘Berbagi Suami’, seperti peran tokoh Pak Lik (Lukman Sardi) yang bekerja mencari nafkah untuk menghidupi ketiga istrinya. Tentu saja ketergantungan masalah finansial yang membuat ketiga istrinya menjadi sangat terikat dengan Pak Lik. Dan di sinilah pihak perempuan/istri tertindas karena tidak punya kekuatan ekonomi. Keadaan seperti yang terjadi dalam film’Berbagi Suami’ juga terjadi di kehidupan nyata, banyak perempuan yang tertindas oleh laki-laki, termasuk karena poligami yang dilakukan oleh suami. Pada akhirnya, lagi-lagi perempuan merasa tertindas dalam batin dan kemudian sering menerobos masuk ke dalam jiwa.
Daftar Pustaka
A. Freeland, Cynthia dan Thomas E, Wartenberg, 1995, Philosophy and Film,
Routledge, New York.
Eagleton, Terry, 2001, Marxisme dan Kritik Sastra, Sumbu, Jakarta.
Geertz, Clifford, dkk, 2007, Lifestyle Ecstasy, Jalasutra, Yogyakarta.
Humm, Maggie, 1992, Feminism a Reader, Harvester Wheatsheaf, Great Britain.
Jackson, Stevi dan Jackie Jones, 1998, Contemporary Feminist Theories, New York University
Press, New York.
Kristanto, J.B, 2004, Nonton Film Nonton Indonesia, Kompas, Jakarta.
Priyatna, Aquarini Prabasmoro, 2006, Kajian Budaya Feminis, Jalasutra, Yogyakarta.
Artikel-artikel dari Internet :
Sinopsis Film Berbagi Suami, oleh Ade Kusumaningrum, www.berbagisuami.com/15maret2006
diakses tanggal 11 November 2007.
Film ‘Berbagi Suami’: Reverse Psychology dan Pembebasan Perempuan, oleh Piki,
mawwarberduri.blogs.friendster.com/22April2006, diakses tanggal 11 November 2007.
Kartini, Feminis Liberal?, oleh Firya Amalia Andriana, republika.co.id/29Maret2006,
diakses tanggal 15 November 2007.
Feminisme itu Berideologi Praxis-Marxis, oleh Dr.Ratnamegawangi, republika.co.id/28Juni2006
diakses tanggal 15 November 2007.
Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan, Meutia Hatta, bipnewsroom.info/6November2007,
diakses tanggal 14 November 2007.
*Rona-Filsafat2005*
dominasi laki-laki atas wanita memang bukanlah hal yang mutlaq dan harus, akan tetapi peranan laki-laki tidak akan pernah hilang dari kehidupan wanita bukankah quraisy syighab mengatakan bahwa wanita membutuhkan laki-laki untuk meopang dia dari belakang ketikia dia sedang lemah?
lalu adakah seorang yang menopang itu tidak lebih kuat dari yang ditopang?
saya pikir tidak ada.
My third comments in this blog today:
Dlm segala keterbatasan pengetahuan saya,bukankah “Feminisme” justru berkembang pesat di negara2 Kapitalis? Kebebasan&Kemajuan wanita setahu saya justru pusatnya di negara2 kapitalis hingga kadang pemahamannya sampai dibawa ke tingkat ekstrim(contoh: Women Abortion Right)
My opinion: Hukum Alam pun sudah menunjukkan laki2&perempuan adalah berbeda,dan Perbedaan ini diimplementasikan di setiap budaya menurut perspektif masing2 budaya tersebut. Untuk budaya yg bersifat kolot&konservatif umumnya lebih memberi dampak yg negatif pada perempuan,maka itu saya malah cenderung melihat negara2 Liberal Kapitalis sebagai ujung tombak Feminisme.
Terakhir, menurut pendapat saya yg merupakan titik pokok seharusnyalah bukan pada persamaan hak karena Hak laki2&wanita adalah sama sebagai Manusia(bukannya saya tdk peduli HAM kaum wanita dg mengatakan itu bukan titik pokok,namun dlm hukum berdasar asas equalitas&imparsialitas maka masyarakat tdk bisa memberikan hak pada wanita berdasar ke-Wanitaannya,tapi atas dasar ke-Manusiaannya). Jadi penekanannya seharusnya lebih pada proses Men-sinergi-kan fungsi Pria&Wanita sesuai kodrat masing2 secara proporsional.
menjadi feminim untuk bisa memberikan satu keunggulan dan menjadi satu hal yang luar biasa bagi kaum hawa, tapi tetap tak kalah dengan pemikiran – pemikiran hebat yang mengguncang dunia..
Sy pernah bertanya dalam hati, kalau melihat tubuh, jelas ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki.
Tetapi kalau dilihat dari “jiwa” apakah ada juga perempuan dan laki-laki..?
Na setuju jika poligami/tidak itu menjadi pilihan, bukan lagi karena nasib..
btw, ada saran buku jika tertarik http://www.goodreads.com/book/show/4678018-tiga-orang-perempuan ^^ sama2 3 cerita, tetapi dengan pandangan yg berbeda..
cheers,
Anna
Halo Mbak Anna, makasi tautan bukunya
menuju TKP